Sejarah

Awal Mula
Universitas Katolik Widya Mandira, disingkat Unwira, lahir dari rahim Gereja Katolik Nusa Tenggara dan Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD). Ia lahir dari keprihatinan terhadap masih sangat terbatasnya wadah bagi pengembangan kualitas awam Katolik NTT, khususnya lewat pendidikan tinggi, dan kenyataan kecilnya jumlah lulusan Sekolah Menengah di NTT yang mempunyai akses ke perguruan tinggi yang bermutu di pulau Jawa dan Bali. Nama Widya Mandira, yang berarti “Menara Ilmu Pengetahuan”, dicetuskan pertama kali oleh almarhum P.Dr. Van Trier, SVD, pada tahun 1958 berkenaan dengan rencana Pembukaan Universitas Katolik di Ende – Flores waktu itu. Rencana ini kemudian batal dilaksanakan. Keinginan untuk mendirikan sebuah universitas Katolik di NTT muncul kembali pada akhir tahun 1970-an. Dalam Sidang Regio Nusra di kampus Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero Maumere Flores tahun 1978 rencana pendirian Unwira dimulai kembali dan kemudian dimatangkan dalam musyawarah antar pimpinan Gereja se Nusa Tenggara dan para tokoh awam katolik di Kupang pada tanggal 11-12 Desember 1981. Musyawarah ini melahirkan Yayasan Pendidikan Katolik Arnoldus (YAPENKAR) dengan Akta Wakil Notaris Silvester Joseph Tjung, SH, Nomor 722 , tanggal 12 Desember 1981 (direvisi dan dikukuhkan lagi pada tanggal 19 Juli 1986 dengan Akta nomor 119). Yayasan ini, pada tanggal 15 Desember 1981, membentuk Panitia Persiapan Pembangunan Universitas Katolik Widya Mandira . Setelah matang persiapannya, maka pada Hari Raya Khabar Sukacita, tanggal 25 Maret 1982, Dewan Pimpinan YAPENKAR, yang diketuai Uskup Kupang, waktu itu Mgr. Gregorius Monteiro, SVD, dengan Surat Keputusan Nomor 01 Tahun 1982, menyatakan berdirinya Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA). Kuliah pertama dari Universitas baru ini dimulai pada tanggal 24 September 1982, tanggal yang kemudian ditetapkan sebagai DIES NATALIS UNWIRA.

Asas dan Spiritualitas
Unwira berasaskan Pancasila dan bernafaskan iman Katolik. Atribut Katolik menyatakan cirri khas Universitas yang mengacu pada nilai-nilai dan semangat yang bersumber dari iman dan ajaran suci Gereja Katolik. Unwira didirikan terutama untuk mengemban misi Gereja Katolik dalam mewujudkan panggilan sucinya dalam mendorong setiap manusia (tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan) dan masyarakat untuk mengembangkan bakat-bakat insaninya demi mencapai martabatnya sebagai pribadi dan masyarakat yang manusiawi.
Spiritualitas dasar Unwira, yang diinspirasi oleh spiritualitas Pelindungnya, St. Arnoldus Janssen, adalah “Ut Vitam Habeant Abundantius – Agar mereka memperoleh hidup dan memperolehnya dalam segala kelimpahannya”, yang dikutip dari doa Yesus, Sang Gembala yang baik.

Fakultas, Program Studi dan Akreditasi
Pada saat awal pendiriannya, Unwira hanya terdiri dari 3 fakultas, yaitu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan Fakultas Teknik yang berkedudukan di Kupang dan Fakultas Filsafat dan Teologi Katolik yang berkedudukan di Ledalero Maumere – Flores. Fakultas Filsafat dan Teologi Katolik ini kemudian berdiri sendiri kembali pada tahun 1983 dan pada tahun yang sama berdiri Fakultas Ekonomi. Setelah dua tahun berjalan Unwira membuka lagi satu Fakultas baru, yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan pada Tahun Akademik 1986 – 1987 dibuka lagi Fakultas Hukum. Tahun Akademik 1991- 1992 dibuka Fakultas Filsafat dan pada tahun 1995 – 1996 dibuka Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Perkembangan Unwira terus berjalan seirama dengan perkembangan pembangunan pendidikan di Indonesia. Pada awal tahun Akademik 1990 – 1991, sebagian besar Jurusan dan Program Studi jenjang Strata satu (S1) maupun Diploma Tiga (D3) memperoleh kenaikan status yaitu dari Status Terdaftar menjadi Diakui. Program Studi – Program Studi yang memperoleh kenaikan status tersebut adalah: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris jenjang S1 dan D3. Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Program Studi Pendidikan Matematika, Jenjang S1 dan D3 pada FKIP, Jurusan Teknik Sipil dan Jurusan Arsitektur Jenjang S1 pada Fakultas Teknik, Jurusan Studi Pembangunan dan Manajemen, Jenjang S1 pada Fakultas Ekonomi, Jurusan Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Administrasi Negara Jenjang S1 pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Pidana dan Perdata, jenjang S1 pada Fakultas Hukum.
Setahun kemudian, tepatnya pada pertengahan tahun Akademik 1992 – 1993, status diakui diperoleh oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Program Studi Pendidikan Bahasa Seni Drama, Tari dan Musik (Sendratasik) Jenjang D3 dan Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Program Studi Pendidikan Biologi, Jenjang S1 dan D3, Program Studi Pendidikan Kimia, Jenjang S1 dan D3, Program Studi Pendidikan Fisika, Jenjang S1 dan D3. Sedangkan Jurusan Ilmu Pendidikan, Program Studi Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Jenjang S1 dan D3 pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Teknik Sipil Jenjang D3 pada Fakultas Teknik, Program Studi Manajemen Koperasi Jenjang D3 pada Fakultas Ekonomi, dan Jurusan Filsafat pada Fakultas Filsafat masih berstatus Terdaftar.
Seiring dengan Kebijakan Pemerintah tentang Akreditasi Perguruan Tinggi maka pada tahun 1998 Unwira mengusulkan 11 Program Studi untuk diakreditasi oleh BAN-PT. Dari sebelas Program Studi yang diusulkan, yang mendapat status terakreditasi hanya tiga Program Studi yaitu Program Studi Pendidikan Matematika (FKIP); Teknik Sipil (FT); Studi Pembangunan (FE). Pencapaian hasil yang jauh dari harapan ini memacu semua komponen di Unwira berbenah diri dan membulatkan tekad untuk menjadikan semua Program Studi yang ada memiliki status terakreditasi. Untuk tujuan tersebut maka pada tahun Akademik 2000 – 2001 Unwira kembali mengusulkan 14 Program Studi untuk diakreditasi. Dari keempat belas Program Studi yang diusulkan, sepuluh Program Studi mendapatkan status terakreditasi, yaitu Program Studi Bimbingan Konseling, Program Studi Bahasa Inggris, Program Studi pendidikan Matematika; Program Studi Pendidikan Biologi FKIP); Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Teknik Arsitektur (FT). Program Studi Pembangunan dan Program Studi Manajemen (FE); Program Studi Ilmu Hukum (FH) dan Program Studi Biologi pada FMIPA.
Pada tahun Akademik 2000 – 2001 Unwira kembali membuka lima (5) Program Studi Baru Jenjang Strata Satu (S1) yaitu Program Studi Pendidikan Sendratasik pada FKIP, Teknik Informatika pada Fakultas Teknik, Program Studi Akuntansi pada Fakultas Ekonomi, Program Studi Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta Program Pasca Sarjana Magister Manajemen Jenjang Strata Dua (S2).
Pada tahun Akademik 2008 – 2009 Unwira kembali mengusulkan dua puluh satu Program Studi untuk diakreditasi dan dire-akreditasi. Saat ini, 16 dari 21 Program Studi yang ada di Unwira telah mendapatkan status terakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). 7 program studi mendapatkan nilai B dan 9 program studi mendapat nilai C. Borang akreditasi untuk 5 program studi yang tersisa (Program Studi Pendidikan Kimia, Pendidikan Sendratasik, Teknik Informatika, Ilmu Komunikasi dan PPS Magister Managemen), telah diterima oleh BAN-PT pada awal Juni 2010, dan diharapkan akan mendapat kunjungan dari team assessor pada bulan Juli – September 2010.

Pimpinan dari Masa ke Masa
Sejak berdirinya hingga saat ini Unwira telah dipimpin oleh 5 orang Rektor yaitu:
1. P. Dr. Herman Embuiru SVD (almarhum) (1982 – 1992)
2. P. Yohanes Mendjang SVD, MA (almarhum) (1992 – 1997)
3. P. Yohanes Bele SVD, MA (1997 – 2005)
4. P. Dr. Cosmas Fernandez SVD, MA (2005 – 2009)
5. P. Yulius Yasinto SVD, MA, MSc (2009 – sekarang)

Unwira Bangkit Menuju Millenium Baru
Dalam usianya yang ke-30, Unwira telah makin menunjukkan kematangannya sebagai sebuah perguruan tinggi yang memberikan warna khas pada pendidikan tinggi di NTT dan bahkan di kawasan Timur Indonesia. Sejalan dengan komitmen untuk mempersembahkan sumber daya manusia yang bermutu ke tengah masyarakat, Unwira tak henti-hentinya melakukan pembenahan dalam seluruh proses pendidikan yang dijalankannya.
Unwira sudah, sedang dan akan mengembangkan tiga jenis keunggulan sebagai trade mark-nya: keunggulan akademik, keunggulan karakter lulusan, dan keunggulan citra lembaga. Ada banyak program kerja yang telah di tetapkan untuk mengejar tujuan tersebut. Tapi di atas segala-galanya, ada satu perubahan mendasar yang sedang berlangsung di Unwira yakni “MELAYANI DENGAN HATI”. Ini adalah motto baru kami. Ini menyangkut perubahan ethos kerja secara mendasar. Para dosen yang mengajar dengan hati seorang bapa dan ibu, para pegawai yang melayani para mahasiswa dan sesama rekan kerja denan hati seorang sahabat, dan para pejabat Universitas dan fakultas yang melakukan koordinasi dengan hati seorang gembala.